Perencanaan Keuangan

Ini adalah realita, banyak orang yang menggantungkan resiko kesehatannya dengan tabungan. Cerita ini merupakan suatu diskusi disebuah portal investasi yang semoga dapat menjadi pencerahan.

Tanya:

Selamat siang,

Saya hanya mau share pengalaman pribadi saya sendiri. Sampai sekarang ini saya belum bisa mengatur keuangan saya secara maksimal, dan saya sampai sekarang masih berusaha mencari tata cara untuk memaksimalkan uang yang saya tabung tersebut.

Nah, ini adalah pengaturan keuangan saya:
1. Total penerimaan sebulan adalah 9.000.000,
2. Untuk budget hidup sebulan 3.500.000,
3. Saving:
a) Reserve darurat bilamana nanti tidak ada penghasilan sebesar 3.000.000,
b) Simpanan pendidikan 500.000,
c) Simpanan untuk pengobatan ke dokter 500.000,
d) Simpanan untuk membeli/mengansur rumah 1.000.000,
e) Untuk disimpan di saham dalam jangka panjang guna retirement sebesar 500.000
f) Sisa dari budget bulanan saya simpan di celengan di rumah, lumayan 2 bulan ini saya sudah mendapatkan lebih dari 2.000.000 rupiah (saya tahu jumlahnya karena setiap ada uang yang mau saya masukkan ke celengan saya selalu mencatatnya di spreadsheet,

Beberapa catatan tambahan:
1. Untuk tabungan di rumah, kalau sudah penuh, saya langsung mau belikan emas,
2. Untuk saham, itu memang betul-betul jangka panjang, yaitu puluhan tahun. Mengingat saya masih umur 28 tahun, berarti itu untuk jangka waktu 37 tahun. Metode saya hanya sekedar memilih index dan melakukan buy and hold,
3. Untuk asuransi jiwa saya belum perlu, walaupun saya sudah ada tanggungan seorang istri (tidak berniat nambah lagi lho ya, hehe), tetapi resiko kematian saya pikir sangat kecil dan akibat finansialnya juga bisa dikatakan kecil, lha wong istri saya masih muda, hehehehe (you know what I mean hehehe),
4. Untuk asuransi kesehatan, saya sudah mencoba menganalisa (dengan pemikiran saya yang cetek hehe) bahwa dampak finansial dari resiko sakit sangat kecil untuk kasus saya dan istri, jadi saya lebih baik membuat satu post tabungan sendiri. Disini, saya memutuskan bahwa saya lebih baik self-insure untuk kasus ini daripada mengalihkan dampak finansial dari resiko sakit ke pihak lain,
5. Simpanan pendidikan itu bukan untuk anak (yang belum jadi, atau lebih tepatnya sengaja belum dijadiin hehehe), tetapi untuk saya dan istri saya. Tetapi, saya sendiri lebih suka membaca buku dan mempelajari sendiri daripada mengambil kursus, dengan keinginan untuk melakukan penghematan. Jadi pos tabungan pendidikan bisa terus-menerus lebih besar, hehehe,
6. Untuk reserve ini saya design untuk nilai 2 tahun, yaitu sebesar 3.500.000 x 24 = 84.000.000, dengan 3 bulan reserve dalam bentuk bank saving account dan sisanya untuk di ORI atau deposit,
7. Untuk membeli rumah, saya memang berkeinginan untuk mengumpulkan aset rumah. Dan untuk ini saya mencoba untuk membeli rumah (tipe yang murah meriah) secara kredit untuk saya pelihara selama mungkin dan dijual di masa depan ketika harga sudah naik,
8. Sebenarnya dari uang 3.500.000 untuk budget hidup sebulan tadi masih dibagi-bagi menjadi beberapa pos pengeluaran yang berbeda, seperti beli beras, lauk-pauk, bensin, kredit motor, biaya kos, pulsa Internet, dll
9. Selain itu saya juga sudah mulai berusaha dibidang perdagangan buku secara kecil-kecilan. Dari sini saya mendapatkan untung yang lumayan (tetapi jumlahnya ya sedikit banget sih, hehehe) dan ini saya simpan di pos khusus, yaitu usaha buku dan tidak saya otak-atik untuk apapun juga,

Jadi dengan kata lain tidak ada yang namanya jatah-jatahan untuk saya dan istri. Yang ada jatah uang dibagi menurut pos-pos tadi yang mana istri dan saya sama-sama saling bisa mengakses.

Tapi ya memang benar, dari pengaturan seperti ini susah luar biasa untuk selingkuh bruakakakakakakaakaka

Kira-kira dengan pengaturan seperti ini apakah sudah cukup baik? Saya sendiri masih berpikir, bahwa uang saya haruslah bisa dikembangkan dengan lebih baik lagi daripada sekedar dengan pengaturan dasar diatas. Mohon sarannya 😀

Jawab:

Bro Eko aku juga sama dengan bro berpikir tidak ada manfaatnya asuransi kesehatan karena yang aku pikirkan adalah bagaimana bisa meningkatkan nilai uang yang kumiliki sehingga aku hanya berinvestasi di Reksadana. aku juga punya pengalaman ke”tipu” dengan unitlink yang mana aku pikir investasi dan agennya juga ga ngerti banget tentang investasi dan asuransi. tapi baru kerasa waktu alm papaku sakit keras. pengeluaran 5 juta sehari masih kurang dan itu berlangsung lebih dari sebulan dan itu semua dari uang investasiku dan akhirnya membuat tujuanku ga bisa kecapai pada waktunya karena uangnya kepakai walaupun banyak juga bantuan dari teman-temannya papa. mungkin bro Eko berpikir yah itu kan orang yang sudah tua yang sakit kan kita masih muda. btw jaman sekarang penyakit ga tau umur, banyak lho yang masih muda sudah kena penyakit. apa anda sudah tau berapa biaya kalau masuk rumahsakit sekarang ini? coba cari tau deh tanya pada yang teman2 anda yang baru masuk rumahsakit. apa cukup simpanan Rp500.000?

Respon:

Terima kasih pak NB atas sharing pengalamannya. Sungguh sangat mencerahkan. Sebenarnya 500 ribu itu adalah budget setiap bulan pak untuk pos medical, yang mana dalam setahun berarti telah terakumulasi sebesar 6 juta rupiah

Jawab:

Bro Eko pengalamanku uang 6 juta juga masih kurang untuk biaya masuk rumah sakit. tidak usah terlalu jauh untuk penyakit kritis seperti yg dialami papaku yang jelas2 sangat mahal biaya per harinya. aku juga pernah masuk rumah sakit gara2 demam berdarah sekitar 5 tahun lalu dan seminggu dirawat di rumah sakit biayanya lebih dari 8 juta ini di rumah sakit PIK kelas 3. kebayang kan kebutuhan dananya? jadi menurutku 6 juta kurang. apalagi kalau bro Eko belum sempat ngumpulin setahun udah keburu sakit (walaupun itu hal yang tidak kita harapkan tapi kita ga tau masa depan jadi kita harus antisipasi risiko-risiko yang mungkin terjadi)

Dari saya belajar jadi financial planning ada teknik2 manajemen risiko dalam hidup. risiko biaya sakit itu mengandung unsur kerugian yang besar walaupun dalam kasus bro Eko yang masih muda dan belum pernah sakit itu kemungkinannya mungkin kecil. tapi walaupun kecil tetap ada risiko jadi lebih baik menurutku mengendalikan risiko ini dengan asuransi daripada menanggung risiko yang bisa mengakibatkan biaya yang besar ini sendirian.

saya sendiri bukan penjual asuransi (cuma jadi agen asuransi kerugian hanya untuk pakai sendiri untuk asuransi rumah sendiri) jadi tidak bisa membagikan banyak tentang perhitungannya. namun dari asuransi yang saya miliki dan membandingkan dengan uang yang disisihkan oleh bro Eko yaitu 500.000 sebulan. saya yang lebih tua dua tahun dari bro Eko hanya menyisihkan 375.000 sebulan dan mendapatkan perlindungan asuransi kalau masuk rumah sakit dicover semua termasuk semua biaya obat, alat2 penunjang kesehatan dan operasi ditanggung penuh sesuai tagihan dengan batas masimal 158 juta setahun.

hal2 itu menjadi perhatian saya karena dari pengalaman keluarga saya yang pernah masuk rumah sakit biasanya yang memakan biaya besar adalah obat2an, oparasi dan alat2 penunjang kesehatan ini (yang banyak asuransi biasanya ga bayar penuh sesuai tagihan, ada batas masing2nya). selain itu sudah ada tambahan cover asuransi penyakit kritis dan kl meninggal (yang jumlahnya kecil, sebenarnya masih pengen diperbesar tapi budget masih kurang 🙂 ) dan itu semua saya dapat dari asuransi unitlink yang bisa cover paling lama dibanding asuransi term. selain itu hanya dengan menunjukkan kartu asuransi (buat RS yg sudah kerjasama) jadi tidak perlu repot nombok pakai uang sendiri dulu dan mengurus klaimnya. emang ga gampang nyari yang kayak gini.

jadi sekarang menurut saya ga semua asuransi unit link jelek (seperti yang dulu saya kira setelah merasa ke”tipu” ) hanya perlu lebih berusaha keras cari yang terbaik memenuhi kebutuhan kita dengan budget yang minim yg pas buat kantong kita.

mengenai uang asuransi 375.000 yang di autodebet tiap bulan dari rekening saya, itu kan ga jadi milik saya lagi seperti 500.000 yang bro Eko simpan. ya itu buat saya seperti membayar uang jasa keamanan rumah aja yang ga usah dipikirin lagi (bukan investasi). namun bro Eko dengan menyimpan 500.000 sebulan dalam bentuk liquid seperti itu pertimbangkan juga apa ga kuatir kepakai dananya buat keperluan yang lain2? sehingga kalau sakit malah ga ada uangnya. menurut saya disini butuh lebih banyak kedisiplinan.

Inspirasi dari: Portal Reksadana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s